Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

The Yes Men

Berurusan dengan the yes men itu selalu ga mudah, jika kita berada pada posisi membutuhkan negosiasi atau menghindari birokrasi yang rumit. Sepanjang sejarah aku mengurus manusia, memiliki bawahan the yes men itu selalu menyenangkan. Ga protes karena ga kritis, atau malas ribut dengan atasan, atau alasan lain. Yang pasti memiliki orang-orang seperti mereka itu berarti hemat energi. Tapi pandanganku berubah ketika aku berada di posisi seperti saat ini. Aku berandai-andai, berharap mereka tidak keberatan untuk dinegosiasi ketika kesalahan itu tidak sepenuhnya salah kami. Perkara sepele sebenarnya bagi mereka saat ini dibandingkan dengan apa yang bisa terjadi pada kami (gagal jadi mahasiswi padahal sudah lulus tes), dan perkara sepele bagi kami di awal sekali pengumuman diberikan. Sesepele masalah kuping yang diciptakan terbuka lalu menyempit, seperti fungsi corong untuk menerima lalu menyimpan dan menyalurkannya di tempat tertutup. Masalahnya kadang yang namanya perempuan itu -ya...

Hari Istimewa

Hari ini istimewa. Pertama karena keluarga Milla datang ke jogja. Berangkat jam 9 pagi dari solo hanya untuk menemui si gadis tengil ini. Aku harusnya bisa setersanjung apa lagi? Sekeluarga jauh-jauh dari luar kota, bermobil ria ke pelosok Jamilurrohman untuk menemuiku. Mill, ini baru so sweet. 😄 Aku ga nyangka keluarga ini begitu hangat, begitu menerima, begitu...familiar. Aku merasa seperti bukan orang asing diantara mereka. Mbak Nurul yang supel dan berani, seperti tahu aku bukan tipe yang biasa memulai perkenalan. Dia menyapaku dan selanjutnya setelah itu aku menikmati cerita-ceritanya seolah aku ini anak tetangga. Aul yang lembut dan lumayan pendiam tapi ramah, teman chatku yang hanif.. Ibu yang seperti duplikat Milla, kebayang si Milla 30 tahun mendatang 😂. Rausyan yang superboy, sangat menarik minatku sebagai seorang guru, dia benar-benar sempurna sebagai murid idaman; perpaduan antara bakat yang brilian sekaligus kengerian yang membuatku selalu bersemangat untuk -yeah a...

Kapan Nikah?

Aku sering mendapat pertanyaan semacam "Kapan nikah?" Atau "Mbak ga pengen nikah?" And so-so gitu lah.. Dan tidak seperti teman-temanku yang notabene usianya jauh lebih unyil daripada aku, aku senang dapet pertanyaan macam ini. Aku menikmati diriku sendiri menjawab semacam, "Se-diizinkannya nikah sama Allah" "Nanti kalo Allah dah nurunin jodoh ana" "Kalo udah waktunya" dan biasanya aku tertawa semauku. Pengen ga nikah? Aduh apa aku ini saking lamanya nyendiri udah jadi semacam biarawati ato biksu yang menikmati hidup ala monk. Jujur itu nikmat. Tapi seperti kata seoranh ulama salaf, "Khalwah yang benar adalah khalwah yang membuatmu ingin berbaur dengan manusia untuk berdakwah." Aku ga mungkin ga pengen. Aku juga pengen wisata kuliner bareng seorang lelaki gagah yang cuek minta ampun tapi kalo sama aku selalu perhatian.. Aku juga pengen ke pantai main-main air sendirian sementara dia sibuk memperhatikan istrinya dari ja...

Menjadi Manusia

Ada batas nyata, antara keanggunan para malaikat dengan keunikan manusia.  Aku tumbuh dalam tiga tahapan dimana di awal perjalananku sebagai manusia, aku lebih menyerupai hewan buas. Warnaku gelap. Tak ada seorangpun merasa betah dan nyaman bersamaku. Aku terluka dan melukai. Aku melukai dan tak ingin berhenti. Kebobrokanku diakui, kebusukanku dijadikan prasasti yang melekat pada namaku. Pada tahap kedua, gelap ini diangkat, dan aku yang tertidur dibangunkan dengan kelembutan tanpa ampun dari Robb Yang Maha Peduli. Ah iya, sungguh Dia Maha Peduli. Karena dzat seburuk aku tak akan bisa dipedulikan oleh apapun dan siapapun, kecuali Dia.. Pada mulanya aku dilatihNya. Keburukan-keburukanku diganti dengan berbagai kebaikan dari sisiNya. Aku dipermak, direvisi, disusun ulang. Aku seperti bangunan baru yang tumbuh diatas puing-puing masa lalu yang muram. Tapi meski puing-puing itu masih, Dia buat aku cantik. Orang-orang mendekatiku, ingin tahu bagaimana sesuatu yang tak mungkin menjadi...