Menjadi Manusia

Ada batas nyata, antara keanggunan para malaikat dengan keunikan manusia.  Aku tumbuh dalam tiga tahapan dimana di awal perjalananku sebagai manusia, aku lebih menyerupai hewan buas. Warnaku gelap. Tak ada seorangpun merasa betah dan nyaman bersamaku. Aku terluka dan melukai. Aku melukai dan tak ingin berhenti. Kebobrokanku diakui, kebusukanku dijadikan prasasti yang melekat pada namaku.

Pada tahap kedua, gelap ini diangkat, dan aku yang tertidur dibangunkan dengan kelembutan tanpa ampun dari Robb Yang Maha Peduli. Ah iya, sungguh Dia Maha Peduli. Karena dzat seburuk aku tak akan bisa dipedulikan oleh apapun dan siapapun, kecuali Dia..
Pada mulanya aku dilatihNya. Keburukan-keburukanku diganti dengan berbagai kebaikan dari sisiNya. Aku dipermak, direvisi, disusun ulang. Aku seperti bangunan baru yang tumbuh diatas puing-puing masa lalu yang muram. Tapi meski puing-puing itu masih, Dia buat aku cantik. Orang-orang mendekatiku, ingin tahu bagaimana sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Mereka ingin tahu bagaimana Allah benar-benar berkuasa atas diriku.
Hingga aku sampai pada titik, dimana aku menjadi seperti tembok yang tak bisa retak, atau seperti mawar yang tak mengenal layu. Aku kehilangan rasa. Aku mati rasa. Aku tak mendapati di hatiku kebencian meski setetespun, atau iri hati pada nikmat yang Allah berikan pada kawan-kawanku. Aku tak bisa kecuali memaafkan, tak ada rasa kecuali kasih sayang. Hatiku mulai enggan pada kecintaan yang fana. Hatiku menjauh dari segala sesuatu yang bukan Dia. Hidup saat itu seperti sesaat di surga. Terlalu indah hingga tak ada sepenggal katapun yang bisa kisahkan apa yang kusimpan di hatiku. Aku tak ingin bersama siapapun, kecuali bersama Dia atau orang-orang yang membuat aku semakin mencintaiNya..

Hingga aku bertemu dengan berbagai hal yang keruh..
Aku yang dulu tak bisa menangis, kecuali karena Dia, kini terjaga hingga pagi dengan lelehan panas air mata.
Aku yang sangat selektif memilih bithonah, kini dengan penuh spekulatif menjadikan seseorang yang enggan kepadaMu sebagai bithonah di sisiku..

Kini aku manusia, sangat manusia..
Aku menangis dan tertawa
Aku berdoa dan berdosa
Kucicipi dunia, terpercik panasnya, menarik diri lalu kembali lagi..

Aku enggan, oh ya Tuanku Kecintaanku, menjadi manusia..jika seperti ini rasanya..

Bisakah, dalam jasad fana manusiawi ini..
Kau anugerahi aku hati dan jiwa seanggun malaikatMu yang suci?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Yes Men

Hari Istimewa