Kapan Nikah?
Aku sering mendapat pertanyaan semacam "Kapan nikah?" Atau "Mbak ga pengen nikah?" And so-so gitu lah..
Dan tidak seperti teman-temanku yang notabene usianya jauh lebih unyil daripada aku, aku senang dapet pertanyaan macam ini.
Aku menikmati diriku sendiri menjawab semacam, "Se-diizinkannya nikah sama Allah" "Nanti kalo Allah dah nurunin jodoh ana" "Kalo udah waktunya" dan biasanya aku tertawa semauku.
Pengen ga nikah?
Aduh apa aku ini saking lamanya nyendiri udah jadi semacam biarawati ato biksu yang menikmati hidup ala monk. Jujur itu nikmat. Tapi seperti kata seoranh ulama salaf, "Khalwah yang benar adalah khalwah yang membuatmu ingin berbaur dengan manusia untuk berdakwah."
Aku ga mungkin ga pengen. Aku juga pengen wisata kuliner bareng seorang lelaki gagah yang cuek minta ampun tapi kalo sama aku selalu perhatian.. Aku juga pengen ke pantai main-main air sendirian sementara dia sibuk memperhatikan istrinya dari jauh sambil minum air kelapa, satu sedotan buat berdua..
Aku juga pengen diingetin sholat sunnah dan diajakin murojaah bareng, diingetin jangan ketawa keras-keras karena ketawaku buat dia aja..
Aku pengen kalo demam ada ngompres dahiku pakai tangannya dan aku langsung berkeringat dan sembuh besok paginya..
Aku pengen baca buku bagus tentang detail sejarah abbasiyah atau mamalik sambil bersandar di punggungnya, dan ketika dia kutanyai macam-macam ala baby baru tau dunia, "Kenapa? Kok bisa?" dia cuma senyum dan bilang, "Coba pikir dek, kenapa?" -karena dia enggan menunjukkan ketidaktahuan, lalu kemudian cari tahu supaya bisa memuaskan jiwa 'kenapa' istrinya- atau membaca buku-buku seindah permata milik ibnul Qoyyim di satu pembaringan yang buat berdua lalu aku menangis di sisi bantal yang lain dan dia tidak tahu..
Dan sesuatu yang paling aku inginkan dari sebuah pernikahan adalah pada akhirnya pohon ini menemukan akarnya.. Sehingga aku tahu bahwa aku dimiliki dan disayang, bahwa aku memiliki sesuatu yang bisa selalu kubawa dalam doaku, sesuatu yang bisa kubentuk tanpa khawatir bahwa orang ini dan anak-anakku nanti akan mengatakan, "Memangnya kamu siapa, nyuruh dan ngelarang aku. Dan memang kamu siapa mau menyuapiku. Dan memang kamu siapa sampai aku harus mengurusimu."
Karena semakin kesini, kasih sayang dan rasa memiliki itu semakin butuh identitas.
Jadi aku pada akhirnya menjadi milik sesuatu yang setia berdoa untukku..
Namun aku tahu pernikahan itu bukan itu. Ga sesederhana apa yang ada di khayalan gadis-gadis puber yang baru kenal laki..
Betapa sering aku mendengar kabar perceraian, dan kamu tau, perceraian itu ga terlalu buruk daripada harus menghadapi keterikatan dengan seseorang yang ga bawa kita ke arah yang lebih baik..
Sungguh berat mencintai seseorang yang membuat kita menjauhi jalan utama menuju Dia..
Dan sungguh berat dicintai seseorang yang tak bisa kita cintai karena dia enggan didekatkan krpadaNya..
Jika itu terjadi padaku, aku lebih senang menggenggam bendera ungu dan kembali hidup sendiri..
Terlebih aku tak punya cermin seorang lelaki di hidupku. Yang bisa kulihat di masa tumbuh kembangku. Yang mengenalkanku bagaimana lelaki itu. Maka ketika aku tumbuh dewasa, aku tetap kesulitan berhubungan dengan mereka, selain menganggap mereka setara dengan kami kaum wanita. Akibatnya mereka merasa aku tak hormat, tak sopan, ngeyel, bandel.
Daripada aku hidup bersama lelaki yang merasa aku seperti itu, menurut pikirku yang cadas, jelas sendiri juga aku sudah bahagia..
Maka pernikahan bagiku lebih seperti sebuah tugas mulia dan amanah dari Robb semesta alam. Dengan pola pikir seperti ini sekarang kalian tahu bahwa aku memang sulit bapernya.
Dan kalau ditanya lagi tentang kapan kawin dan pengen nggak kawin aku yakinkan dengan izin Allah aku akan bisa tertawa senang.
Dan tidak seperti teman-temanku yang notabene usianya jauh lebih unyil daripada aku, aku senang dapet pertanyaan macam ini.
Aku menikmati diriku sendiri menjawab semacam, "Se-diizinkannya nikah sama Allah" "Nanti kalo Allah dah nurunin jodoh ana" "Kalo udah waktunya" dan biasanya aku tertawa semauku.
Pengen ga nikah?
Aduh apa aku ini saking lamanya nyendiri udah jadi semacam biarawati ato biksu yang menikmati hidup ala monk. Jujur itu nikmat. Tapi seperti kata seoranh ulama salaf, "Khalwah yang benar adalah khalwah yang membuatmu ingin berbaur dengan manusia untuk berdakwah."
Aku ga mungkin ga pengen. Aku juga pengen wisata kuliner bareng seorang lelaki gagah yang cuek minta ampun tapi kalo sama aku selalu perhatian.. Aku juga pengen ke pantai main-main air sendirian sementara dia sibuk memperhatikan istrinya dari jauh sambil minum air kelapa, satu sedotan buat berdua..
Aku juga pengen diingetin sholat sunnah dan diajakin murojaah bareng, diingetin jangan ketawa keras-keras karena ketawaku buat dia aja..
Aku pengen kalo demam ada ngompres dahiku pakai tangannya dan aku langsung berkeringat dan sembuh besok paginya..
Aku pengen baca buku bagus tentang detail sejarah abbasiyah atau mamalik sambil bersandar di punggungnya, dan ketika dia kutanyai macam-macam ala baby baru tau dunia, "Kenapa? Kok bisa?" dia cuma senyum dan bilang, "Coba pikir dek, kenapa?" -karena dia enggan menunjukkan ketidaktahuan, lalu kemudian cari tahu supaya bisa memuaskan jiwa 'kenapa' istrinya- atau membaca buku-buku seindah permata milik ibnul Qoyyim di satu pembaringan yang buat berdua lalu aku menangis di sisi bantal yang lain dan dia tidak tahu..
Dan sesuatu yang paling aku inginkan dari sebuah pernikahan adalah pada akhirnya pohon ini menemukan akarnya.. Sehingga aku tahu bahwa aku dimiliki dan disayang, bahwa aku memiliki sesuatu yang bisa selalu kubawa dalam doaku, sesuatu yang bisa kubentuk tanpa khawatir bahwa orang ini dan anak-anakku nanti akan mengatakan, "Memangnya kamu siapa, nyuruh dan ngelarang aku. Dan memang kamu siapa mau menyuapiku. Dan memang kamu siapa sampai aku harus mengurusimu."
Karena semakin kesini, kasih sayang dan rasa memiliki itu semakin butuh identitas.
Jadi aku pada akhirnya menjadi milik sesuatu yang setia berdoa untukku..
Namun aku tahu pernikahan itu bukan itu. Ga sesederhana apa yang ada di khayalan gadis-gadis puber yang baru kenal laki..
Betapa sering aku mendengar kabar perceraian, dan kamu tau, perceraian itu ga terlalu buruk daripada harus menghadapi keterikatan dengan seseorang yang ga bawa kita ke arah yang lebih baik..
Sungguh berat mencintai seseorang yang membuat kita menjauhi jalan utama menuju Dia..
Dan sungguh berat dicintai seseorang yang tak bisa kita cintai karena dia enggan didekatkan krpadaNya..
Jika itu terjadi padaku, aku lebih senang menggenggam bendera ungu dan kembali hidup sendiri..
Terlebih aku tak punya cermin seorang lelaki di hidupku. Yang bisa kulihat di masa tumbuh kembangku. Yang mengenalkanku bagaimana lelaki itu. Maka ketika aku tumbuh dewasa, aku tetap kesulitan berhubungan dengan mereka, selain menganggap mereka setara dengan kami kaum wanita. Akibatnya mereka merasa aku tak hormat, tak sopan, ngeyel, bandel.
Daripada aku hidup bersama lelaki yang merasa aku seperti itu, menurut pikirku yang cadas, jelas sendiri juga aku sudah bahagia..
Maka pernikahan bagiku lebih seperti sebuah tugas mulia dan amanah dari Robb semesta alam. Dengan pola pikir seperti ini sekarang kalian tahu bahwa aku memang sulit bapernya.
Dan kalau ditanya lagi tentang kapan kawin dan pengen nggak kawin aku yakinkan dengan izin Allah aku akan bisa tertawa senang.
Komentar
Posting Komentar