The Yes Men

Berurusan dengan the yes men itu selalu ga mudah, jika kita berada pada posisi membutuhkan negosiasi atau menghindari birokrasi yang rumit.

Sepanjang sejarah aku mengurus manusia, memiliki bawahan the yes men itu selalu menyenangkan. Ga protes karena ga kritis, atau malas ribut dengan atasan, atau alasan lain. Yang pasti memiliki orang-orang seperti mereka itu berarti hemat energi.

Tapi pandanganku berubah ketika aku berada di posisi seperti saat ini. Aku berandai-andai, berharap mereka tidak keberatan untuk dinegosiasi ketika kesalahan itu tidak sepenuhnya salah kami. Perkara sepele sebenarnya bagi mereka saat ini dibandingkan dengan apa yang bisa terjadi pada kami (gagal jadi mahasiswi padahal sudah lulus tes), dan perkara sepele bagi kami di awal sekali pengumuman diberikan.

Sesepele masalah kuping yang diciptakan terbuka lalu menyempit, seperti fungsi corong untuk menerima lalu menyimpan dan menyalurkannya di tempat tertutup.

Masalahnya kadang yang namanya perempuan itu -yang akalnya lebih pendek- ga bisa cuma denger sekali lalu ingat selamanya. Ohya kecuali semacam kata "I love you" dan "Kita putus aja" yang akan selalu terkenang sepanjang masa.

Pengumuman -katanya- sudah jelas diberikan. Tapi sekitar separuh bahkan lebih ga mengirimkan berkas hingga deadline waktu yang di tetapkan. Itu termasuk aku sendiri. Karena peristiwa tahun lalu, dimana kakak-kakak kelas sibuk mengurus berkas setelah dinyatakan lulus membuatku salah paham, bahwa kalau sudah pengumuman lulus barulah mengumpulkan berkas..

Yah begitulah.

Mereka itu laki-laki yang otomatis enggan didebat wanita. Bukan juga tipe peduli yang bisa mengatakan, "Sebentar akan saya usahakan". Mimpi.

Jadi nasib sekitar 20an lebih mantan mahasiswi 'khusus' ini terlunta-lunta antara diterima dan di diskualifikasi.

Hasbunallah wa ni'mal wakil..
(Maaf ya Allah kalau kalimat ini ga tepat..)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Manusia

Hari Istimewa