Hari Istimewa bag 3
Yang datang adalah keajaiban ketika aku mulai bertanya-tanya dan dia mulai menjawab-jawab yang seperti seorang narasumber yang diwawancara reporter untuk majalah kampus.
STDI harus senang punya reporter pemalu seperti aku.
Cerita pun mengalir..
Dan aku hanya bisa perlahan menyadari, bahwa anak ini memiliki sesuatu yang jauh tingkatannya di atasku. Yang membuat Allah memilih dia sejak awalnya, memberinya ujian ini, dan kekuatan selangka ini membuatku ingin menangis. Akhirnya aku mengajaknya ke maktabah yang lebih sepi karena kedatanganku ke Jamilurrohman itu sungguh diapresiasi dan aku merasa sedang tidak ingin salam-salaman di tengah-tengah kisah itu mengalir.
Dia dipapah ketika berjalan ke maktabah.
Bukan aku yang memapahnya.
Aku memang payah. Payah.
Akhirnya kami berdua saja di maktabah.. disana, di tempat itu.. Pernah terjadi sesuatu yang tidak kuceritakan pada seorangpun di dunia ini.. Pernah terjadi sesuatu, yang hanya satu dua orang yang melihatnya.. Pernah terjadi sesuatu yang mengubah hidupku dan dua orang lain setelah itu.. Pernah terjadi sesuatu, dan kurasa anak ini perlu kuberitahu.
Dia sangat butuh penguat..
Aku membelai satu bagian rak buku maktabah, yang terbuat dari besi.. Satu-satunya yang bengkok, dan penyebab bengkoknya adalah tangan seorang anak berusia 16 tahun yang tengah dikendalikan jin yang menguasainya..rak sisi ini bengkok ketika jin itu menahan sakit.. Anak gadis mana yang kuat membengkokkan rak besi?
Akhirnya, menguatkan anak ini, kuceritakan kisahku dulu.. bersama dua orang yang mulia.. orang yang Allah pilih untuk menjadi partnerku dan seorang lagi yang Allah pilih untuk menjadi penguat bagiku..
Aku lega aku tidak lagi menangis ketika sampai di bagian singgasana Sulaiman. Aku sudah berhenti menangis sejak aku bercerita kepada Millati. Aku sudah ridho, insyaAllah.. Sakit, tapi tidak seperti dulu. Aku cukup bahagia bisa jadi saksi.. meski bukan jadi seseorang yang Allah gunakan untuk menyembuhkan..meski aku bukan obat yang Dia pakai untuk menyembuhkan..
Aku ingat sepanjang aku bercerita, anak itu berkali-kali bersendawa, kesakitan, dan aku seperti dibawa kembali bersama Faza. Aku yakin anak ini akan Allah kuatkan. Aku yakin Allah cinta..
Maka akupun cinta..
Setelah aku pulang, aku ingin segera kembali ke Jamilurrohman..bertemu anak ini yang aku tidak tahu siapa namanya๐ .. tidak tahu nanti mencarinya bagaimana..
Mungkin Kasmi Hayati bisa membantu. Dia sudah sangat membantu.
Tapi kali ini aku berharap dia loncat pergi lagi setelah mempertemukan kami๐
Jazaahallah khoiron sudah loncat kemarin..๐
STDI harus senang punya reporter pemalu seperti aku.
Cerita pun mengalir..
Dan aku hanya bisa perlahan menyadari, bahwa anak ini memiliki sesuatu yang jauh tingkatannya di atasku. Yang membuat Allah memilih dia sejak awalnya, memberinya ujian ini, dan kekuatan selangka ini membuatku ingin menangis. Akhirnya aku mengajaknya ke maktabah yang lebih sepi karena kedatanganku ke Jamilurrohman itu sungguh diapresiasi dan aku merasa sedang tidak ingin salam-salaman di tengah-tengah kisah itu mengalir.
Dia dipapah ketika berjalan ke maktabah.
Bukan aku yang memapahnya.
Aku memang payah. Payah.
Akhirnya kami berdua saja di maktabah.. disana, di tempat itu.. Pernah terjadi sesuatu yang tidak kuceritakan pada seorangpun di dunia ini.. Pernah terjadi sesuatu, yang hanya satu dua orang yang melihatnya.. Pernah terjadi sesuatu yang mengubah hidupku dan dua orang lain setelah itu.. Pernah terjadi sesuatu, dan kurasa anak ini perlu kuberitahu.
Dia sangat butuh penguat..
Aku membelai satu bagian rak buku maktabah, yang terbuat dari besi.. Satu-satunya yang bengkok, dan penyebab bengkoknya adalah tangan seorang anak berusia 16 tahun yang tengah dikendalikan jin yang menguasainya..rak sisi ini bengkok ketika jin itu menahan sakit.. Anak gadis mana yang kuat membengkokkan rak besi?
Akhirnya, menguatkan anak ini, kuceritakan kisahku dulu.. bersama dua orang yang mulia.. orang yang Allah pilih untuk menjadi partnerku dan seorang lagi yang Allah pilih untuk menjadi penguat bagiku..
Aku lega aku tidak lagi menangis ketika sampai di bagian singgasana Sulaiman. Aku sudah berhenti menangis sejak aku bercerita kepada Millati. Aku sudah ridho, insyaAllah.. Sakit, tapi tidak seperti dulu. Aku cukup bahagia bisa jadi saksi.. meski bukan jadi seseorang yang Allah gunakan untuk menyembuhkan..meski aku bukan obat yang Dia pakai untuk menyembuhkan..
Aku ingat sepanjang aku bercerita, anak itu berkali-kali bersendawa, kesakitan, dan aku seperti dibawa kembali bersama Faza. Aku yakin anak ini akan Allah kuatkan. Aku yakin Allah cinta..
Maka akupun cinta..
Setelah aku pulang, aku ingin segera kembali ke Jamilurrohman..bertemu anak ini yang aku tidak tahu siapa namanya๐ .. tidak tahu nanti mencarinya bagaimana..
Mungkin Kasmi Hayati bisa membantu. Dia sudah sangat membantu.
Tapi kali ini aku berharap dia loncat pergi lagi setelah mempertemukan kami๐
Jazaahallah khoiron sudah loncat kemarin..๐
Komentar
Posting Komentar