Hari Istimewa bag.2

Akhirnya bisa ngelanjutin nulis..
Ini sebenernya kelanjutan dari paragraf2 akhir dari postinganku yang judulnya Hari Istimewa. Tapi karena beda cerita, dan kalo aku bedain judulnya, postingan awal jadi kaya bersambung gitu.. Jadi ini aku samain judulnya. Tapi beda ya, temanya.. Ini kisah tentang seorang gadis yang Allah pilih untuk Islam, lalu Allah uji..

...


Bahkan aku tidak tahu siapa namanya!
Innalillahi Intan, terbiasa ga kenalan sih boleh-boleh aja.. tapi kalau sampai melewatkan informasi penting dari orang penting yang kamu harap akan kamu temui lagi, ah....!

Kamu bisa bilang apa nanti kalau ke sana, dan mau ketemu dia? "Nyari akhwat yang diganggu jin.." πŸ˜…
Oh seriously.

Ok jadi aku ga tau siapa namanya.
Tapi kisah yang akan kuceritakan ini sungguh nyata, dan sejak bertemu dengannya, aku merasa memiliki suatu motivasi untuk kembali mendekati Robbku. Kembali ke jalur utama menempuh perjalanan setelah sekian lama aku berleha-leha.

Segala puji bagi Allah..

Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kepadaku kesempatan dan 'afiyah, hingga aku bisa menjadi saksi hidup dari berbagai kisah menggetarkan yang akhirnya kutulis, semoga bisa diambil ibrahnya.

Jadi gadis itu...aaah! Bahkan ketika aku mau memulai kisah ini dari usia dan pendidikannya aku ga bisaπŸ˜… karena ga tanya. Aih sungguh apa aku ini.

Ok.

Pertama kali di bawa ke hadapanku, dia berjalan terpincang. Dan ketika menatapku, ia seperti tidak melihat ke arahku karena pandangan matanya selalu beberapa derajat meleset dari wajahku; tapi ia melihatku. Tulang punggung bawahnya retak. Syaraf di kepalanya ada yang putus. Dan kakinya pincang karena kaku sebelah. Badannya kecil dan membuatku mengira-ngira apakah aku sekecil itu? Karena aku merasa kasihan melihat postur tubuhnya, dan orang-orang juga melihatku seperti kekurangan bahan pangan.

Aku tidak simpati.

Tapi seluruh perasaan itu berubah ketika aku mendengar suaranya, ketika dia mulai bicara.

Entah suaranya yang luar biasa hanif dan menunjukkan kepasrahan kepada Allah; dan dia selalu tersenyum sepanjang pertemuan, ataukah karena ceritanya yang menggetarkan hati.

Jadi sebelum bertemu dengannya, Kasmi Hayati telah memberiku beberapa kisah menarik tentang dia yang akan kusebutkan disini dalam bentuk point agar ringkas,

1. Seorang muallaf sejak 2 tahun lalu.
2. Diteror jin oleh pamannya yg nasrani agar kembali ke agama lamanya (ini sih pengakuan jin dan juga tanda-tanda yang mengarah ke situ)
3. Anak ini jenius. Beberapa kali akselerasi, dan sebenarnya sudah dapat beasiswa kuliah ketika usianya masih...(yaa aku ga perhatian dengan nama dan angka).
4. Anak ini sudah hafal 8 juz Al Quran. Sungguh himmah yg kuat.
5. Ini hari ke 7 dia di pondok dan syaithon2 itu bereaksi secepat ini.
6. Masuknya dia serta keluarganya dalam islam bermula dari sebuah mimpi. Dia mimpi thowaf di ka'bah, kemudian mendengar seruan, "Wahai fulanah, ucapkanlah syahadat." Dan ketika bangun ia bersyahadat, dan diikuti ibu dan ayahnya.

Fyuh.. Lagi-lagi aku didera cemburu hebat. Aku cemberut, tapi di dalam hati. Kemudian aku senang, aku tahu akan ada jalinan antara aku dan dia. Seperti antara aku dan Faza. Seperti perasaanku kepada Widya Ananta dan Syaikh Dhoifullah Al Qorny.

Duh, Ilahy.. banyak sekali kekasihMu di sekitarku..

Mendengar cerita dari Kasmi saja sudah membuatku ber "Ooh.....MasyaAllah..." berkali-kali. Tapi mendengar langsung itu tak sama dengan mendengar dari orang lain.

Aku tidak biasa memulai perkenalan. Aku sangat pemalu dan menganggap harusnya orang lain sudah tahu itu dari jarangnya aku melakukan kontak mata, dan aku yang jika berjalan menunduk, jarang bicara, jarang bergaul. Tapi ternyata anak itu lebih pemalu dariku dan dia dibawa kepadaku dalam keadaan nyaris diseret oleh Kasmi. Kasmi oh Kasmi.

Andai dia tahu aku bisa lari dengan kedua kakiku jika sangat malu; aku pernah.

Waktu itu aku hampir lari juga. Tapi karena muqoddimah Kasmi tentang dia sangat menarik, aku berusaha menahan malu dan bertindak sebagai orang dewasa 27 tahun. Hhh...

Dia duduk. Aku bingung. Aku dan dia sama-sama melihat ke Kasmi dan menunggu harus bicara apa.

"Ana tinggal ya?"

Dan Kasmi meloncat pergi.

πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‘

Andai dia tahu. Oh andai dia tahuuuu!!

Tapi aku berusaha cool. Dan merasa sebagai yang lebih tua, aku bertanya, "Gimana..?"
Dan dengan wajar dia balik nanya, "Apanya..?"

Aih sungguh.

Seseorang tolong jadi jembatan yang layak.

Tapi tidak ada yang datang.


-bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Manusia

The Yes Men

Hari Istimewa